SAMUDERA PASAI : KERAJAAN ISLAM PERTAMA DI INDONESIA

Kerajaan Samudera Pasai merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia yang terletak di Lhokseumawe, Aceh Utara. Sejarah Kerajaan Samudera Pasai ditandai dengan raja yang berkuasa, masa kejayaan, dan jejak peninggalan yang masih ada hingga saat ini.
Kerajaan Samudera Pasai merupakan kerajaan yang dipimpin oleh sultan. Kesultanan ini merupakan gabungan dari Kerajaan Pase dan Peurlak yang sudah ada sebelumnya.

Kerajaan Samudera Pasai: Sejarah, Raja, dan Jejak Peninggalan (Foto ilustrasi: pexel/Asifgraphy)

Samudera Pasai terletak di wilayah yang sangat strategis. Kawasan Pasai dekat dengan laut dan tidak jauh dari Selat Malaka yang merupakan jalur perdagangan ke Persia, Arab, Cina serta India. Kondisi ini membuat Samudera Pasai terus berkembang menjadi pusat perdagangan besar.

Saat menjadi pusat bisnis, Kerajaan Samudera Pasai juga fokus pada komoditas utamanya yaitu lada.

Masa kejayaan

Masa kejayaan Kesultanan Samudera Pasai berhasil mencapai puncak kejayaan pada 1326-1345 Masehi. Keberhasilan tersebut diraih saat kerajaan berada di bawah pimpinan Sultan Ahmad Bahian Syah Malik Zahir. Pada masa tersebut, Samudera Pasai menjadi pusat perdagangan penting di kawasan Nusantara.

Kesultanan kerap menerima saudagar kaya dari Cina, India, Siam, Arab, dan Persia sebagai tamu. Lada menjadi komoditas utama di Kerajaan Samudera Pasai. Komoditas tersebut berhasil membuat kerajaan ini tak pernah sepi dari para saudagar dan pedagang kaya dari negara lain.

Raja Samudera Pasai

Sejarah mencatat, Kerajaan Samudera Pasai awalnya digagas oleh Nazimuddin al-Kamil. Lalu, Kerajaan Samudera Pasai didirikan pada tahun 1267 Masehi oleh Sultan Malik al-Saleh atau Marah Silu (Meurah Silu). Pendiri Kerajaan Samudera Pasai ini sekaligus menjadi raja pertama Samudera Pasai.

Beberapa referensi menjelaskan, terpilihnya Meurah Silu sebagai penguasa Pasai karena titah dari Kesultanan Mamluk di Kairo. Meurah Silu diberi gelar Sultan Malik as-Saleh atau Sultan Malikussaleh. Dia menjadi sultan Samudera Pasai periode 1267-1297 Masehi.

Usai Meurah Silu wafat, pemerintahannya digantikan oleh sang putra yaitu Sultan Malik az-Zahir dari hasil perkawinan Meurah Silu dengan Putri Raja Perlak.

Penguasa Samudera Pasai terus berganti hingga 1517 Masehi, berikut daftar Raja Samudera Pasai.
– Sultan Malik al-Saleh/Meurah Silu (1267-1297)
– Sultan Malik az-Zahir (1297-1326)
– Sultan Ahmad I (periode 1326)
– Sultan al-Malik az-Zahir II (periode 1349)
– Sultan Zainal Abidin I (1349-1406)
– Sultan Malikah Nahrasiyah (1406-1428)
– Sultan Zainal Abidin II (1428-1438)
– Sultan Shalahuddin (1438-1462)
– Sultan Ahmad II (1462-1464)
– Sultan Abu Zaid Ahmad III (1464-1466)
– Sultan Ahmad IV (1466-1466)
– Sultan Mahmud (1466-1468)
– Sultan Zainal Abidin III (1468-1474)
– Sultan Muhammad Syah II (1474-1495)
– Sultan Al-Kamil (1495-1495)
– Sultan Adlullah (1495-1506)
– Sultan Muhammad Syah III (1506-1507)
– Sultan Abdullah (1507-1509)
– Sultan Ahmad V (1509-1514)
– Sultan Zainal Abidin IV (1514-1517)

Kemunduran Samudera Pasai

Kemunduran Samudera Pasai Mengutip “Kedatangan Islam dan Kerajaan Islam di Sumatera” karya Angga Dian Toro, Samudera Pasai mendapat serang dari Majapahit pada masa kekuasaan Sultan Malik az-Zahir. Sang raja melarikan diri dari serangan tersebut, sehingga membuat Majapahit berhasi menduduki Samudera Pasai. Namun, pada tahun 1383 Samudera Pasai berhasil bangkit dan melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit.

Kebangkitan Samudera Pasai ini berhasil didapat saat Sultan Zain Abidin Malik as-Zahir menjabat sebagai raja. Ia memerintah Samudera pasai hingga tahun 1405. Sayangnya, Samudera Pasai terpaksa takluk pada Kerajaan Aceh. Kesultanan pertama di Indonesia ini akhirnya runtuh pada tahun 1524.

Jejak Peninggalan Samudera Pasai

Jejak peninggalan Kesultanan Samudera Pasai diketahui melalui bukti arkeolog ditemukannya makam raja-raja Pasai di Kampung Geudong, Aceh Utara.

Area makam para raja Samudera Pasai itu berada tidak jauh dari reruntuhan bangunan Kesultanan Samudera Pasai yang persisnya berlokasi di Desa Beuringin, Kecamatan Samudera, Lhokseumawe.

Dari deretan makam para raja, terdapat makam atas nama Sultan Malik al-Saleh yakni raja pertama sekaligus pendiri Samudera Pasai.

Tidak hanya makam Sultan Malik al-Saleh, tapi ada juga makam Sultan Malik az-Zahir, Teungku Peuet Ploh hingga Ratu Al-Aqla.

Selain pemakaman, Kerajaan Samudera Pasai meninggalkan lonceng Cakra Donya, stempel khas kerajaan, buku Tassawuf hingga karya tulis Hikayat Raja Pasai.

Untuk info pemesanan dan keagenan

Telp./Wa : 0813-1323-0720

Bukalapak : nabawilifeofficial

Shopee : NabawiLife

Shopee Jakarta : Nabawilife_jakarta

Tokopedia : nabawilifeofficial

Sosial Media Kami

Facebook : Nabawilife.id

Instagram : nabawilife.id

Youtube : Nabawilife id

Bagikan Postingan Kami Jika Bermanfaat

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on google
Share on email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Produk-produk Nabawilife diracik dari bahan-bahan alami terbaik yang diimport langsung dari sumbernya yang dimana telah lolos uji sertifikasi kehalalan seperti habbatussauda Habbasy, madu, jahe serta diperkaya dengan herbal-herbal Indonesia berkhasiat lainnya.

©2021. Nabawilife. All Rights Reserved.